Happily Ever After

January 23, 2008

Commentku pada Novel “Ayat-ayat cinta”(1)

Filed under: My mine

Sudah sering aku mendengar Novel ini baik dari temen-temen ataupun dari berita dan koran, malah sebentar lagi akan tayang filmnya segala, pernah juga waktu makan diwarung “Hidayah”ada bukunya dan aku hanya sempat melihat covernya saja tanpa melihat isinya, akhirnya penasaran juga ingin sekali aku membacanya tanpa sengaja aku sedang mencari tutorial buat PDA-ku aku tanpa sengaja menemukan link softcopynya Novel ini “Ayat-ayat Cinta” yang berbentuk PDF, mungkin ini petunjuk bagiku untuk segera membacanya dan menetahui isinya.

Hari kemaren tanggal 22 Januari aku mulai membacanya, agar bisa dibaca diwaktu luang aku install Adobe Reader buat PDA-ku, setelah aku install malam harinya aku sibukkan baca Novel ini, setelah baca sehabis solat maghrib aku jadi keenakan karena isinya mengingatkan aku akan “ngaji” lagi, belajar agama lagi, tergerak hati ingin memperbaiki akidah-akidah keagamaanku yang sudah terusak oleh tipu daya syetan selam ini, membaca Novel ini ingin rasanya aku menangis dan menangis , meskipun akhlak dan ilmuku tidak sebaik tokoh
“fahri” dalam Novel ini, tapi kelemahan dalam novel ini ya menurutku kenapa jalan hidup Tokoh Fahri begitu perfect, sesempurna itukah yang dia lakukan dalam hidup pada Zaman yang gila seperti ini……………..

kembali pada diriku…..aku tadi malam baca Novel ini sampai jam 3 pagi hingga sekarang masih belum kelar karena halamannya yang terlalu tebal buatku, dari tiga ratus lebih halaman sudah dua ratus lebih aku habiskan, hanya untuk menghabiskan waktuku dan ingin rasanya melanjutkan dan melanjutkan membacanya, karena Novel ini rasanya ada yang beda, novel ini seperti mengajariku, seperti dakwah buatku, tetntunya aku yang didakwahi oleh penulisnya, Novel ini bagai minuman segar dikala kita merasa sangat haus (bersambung)

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://matabdulaziz.blogsome.com/2008/01/23/commentku-pada-novel-ayat-ayat-cinta1/trackback/

  1. “fahri” dalam Novel ini, tapi kelemahan dalam novel ini ya menurutku kenapa jalan hidup Tokoh Fahri begitu perfect, sesempurna itukah yang dia lakukan dalam hidup pada Zaman yang gila seperti ini……………..

    “apa yang kamu komentarkan, pernah dan sering di singgung para pembaca, seolah2 kang abiq dalam mengkarakterkan tokoh kurang membumi dg kultur yg ada, seolah2 fahri laksana malaikat…..
    namun itulah kang abiq yg sebagian proses pemahaman agamanya terbentuk oleh kultur Mesir….
    dg komentar sebagaimana di atas kang abiq hanya menjawab

    “hanya yang komentar demikian ataupun org Indonesia memang tidak terbiasa dengan keadaan yang demikian, ada org baik di bilang sok suci, gak pacaran dibilang gak laku DST,,,,”

    mendengar jawaban kang abiq demikian , serentak dan saya terkejut “diplomatis sekali yach”
    be better,,,
    moga dg yang lalu kita semua belajar lebih baik untuk pengabdian kita terhadap “Cinta N Kasih sayang”
    AAAAmin…….

    Comment by rien zumaroh — January 25, 2008 @ 9:42 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan